Pemotongan Pasokan Gas Rusia Berdampak Terhadap Dua Belas Negara Uni Eropa, Simak di Sini Selengkapnya!

Sumber: Tribun

Pada Kamis (23/6), Kepala kebijakan iklim Uni Eropa, Frans Timmerman mengatakan bahwa pemotongan pasokan gas dari Rusia berdampak terhadap dua belas negara Uni Eropa. 

Ia mengungkapkan ada sekitar sepuluh dari dua puluh tujuh negara Uni Eropa yang sudah mengeluarkan ‘peringatan dini’ terhadap pasokan gas, yang pertama dan yang terparah dari tingkat krisis diidentifikasi dalam keamanan Uni Eropa peraturan pasokan energi. Karena itu, negara – negara Uni Eropa dituntut untuk memiliki rencana mengenai cara mereka mengelola gangguan pasokan gas di tiga tingkat. 

Untuk informasi lebih lengkap, berikut fakta – fakta menarik terkait berita dampak pemotongan gas Rusia Eropa :

Energi Konvensional

Sumber: Kompas TV

Sejumlah perusahaan di Jerman yang menggerakan perekonomian negara tersebut sedang mempertimbangkan bagaimana cara mengalihkan sumber energinya ke sumber – sumber energi kotor yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan seiring dengan pasokan gas dari Moskow akan segera habis. 

Berkurangnya pasokan gas dari Rusia membuat seluruh industri di Jerman mempercepat upaya untuk segera menemukan alternatif agar pabrik tetap bisa berjalan serta membatasi biaya yang harus dikeluarkan. 

Baca juga: Sumber Kekayaan Rudi Salim, Crazy Rich yang Sedang Viral

Contohnya, BASF sebuah perusahaan raksasa kimia tengah mencari tahu pabrik mana yang bisa memangkas produksi terlebih dahulu, sementara Lanxess sang kompetitor kemungkinan akan menunda penutupan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara. 

Kemudian Gazprom sebuah perusahaan gas memangkas aliran gas sebesar 60 persen melalui pipa Nord Stream 1 dari Rusia ke Jerman pada minggu lalu. Sementara, Kelheim Fiber, Pemasok energi Proctor & Gamble tengan mempertimbangkan keputusan untuk menghabiskan hingga jutaan dolar untuk mengganti pembangkit listrik tenaga gasnya beralih menggunakan minyak untuk menjaga agar pembangkit tersebut tetap bisa beroperasi. 

Perusahaan – perusahaan tersebut termasuk juga sejumlah perusahaan padat di Jerman yang membayar 17 miliar euro untuk energi setiap tahun. 

Semenjak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu, pabrik – pabrik di Jerman tersebut berfokus terhadap pengurangan emisi karbon yang sejalan dengan upaya negara Jerman untuk memenuhi tujuan iklim Uni Eropa. 

Seberapa Burukkah?

Sumber: iNews

Negara Jerman sejauh ini sudah mengaktifkan tahap peringatan dini pertama dari rencana tiga tahap guna mengatasi krisis pasokan gas Rusia. Pada Selasa (22/6), regulator energi Jerman telah menguraikan rencana untuk memotong penggunaan gas industri melalui sistem tender dengan harapan bisa mendorong produsen untuk mengkonsumsi lebih sedikit gas. 

Perusahaan Kimia terbesar di dunia berdasarkan penjualan, BASF tengah melakukan rencana darurat untuk konsumen listrik industri terbesar di Jerman yang menyumbang lebih dari 1 persen dari total permintaan negara Jerman yaitu Ludwighshafen. 

BASF yakin masih tetap bisa mengoperasikan Ludwighshafen asalkan pasokan permintaan gas alam maksimum dari lokasi industri tersebut tidak turun dibawah 50 persen. Ludwighshafen mencakup 200 lokasi produksi yang membutuhkan 6 terawatt jam listrik setiap tahun, namun dengan kapasitas yang berkurang. 

BASF akan memprioritaskan pabrik mana yang akan dimatikan terlebih dahulu dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan pelanggan serta polisi seraya menambahkan bahwa sejumlah produk merupakan produk penting untuk membuat makanan, industri farmasi, dan produksi mobil. 

Sementara manajemen Lanxess, produsen bahan kimia khusus yang lebih kecil yang dipisahkan dari usaha Bayer pada 2005 tengah mencari dana agar terhindar dari penutupan. Salah satu pilihannya yaitu kemungkinan akan menunda rencana penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara yang masih beroperasi di lokasi Jermannya di Leverkusen dan Krefeld. 

Baca juga: Perlukah Indonesia Memiliki Kapal Pesiar?

Sumber: https://beritakubaru.com/